Home PageBisnis AksesorisBerbagi Ilmu Menjaring Rupiah

Jan 12

Berbagi Ilmu Menjaring Rupiah

Sebuah Tips Menjadi Pengajar Aksesoris (I)

Sekitar 7 tahun  yang lalu,
Membuat bros manik-manik merupakan sebuah momok tersendiri buat saya ^_^
Bahkan sebelum coba bikinpun, saya sudah tau… kalau saya akan gak bisa… hahaha…
Semua berubah justru ketika seseorang meminta saya untuk mengajarkan cara membuat bros manik-manik (hihihi…padahal jelas-jelas ketika itu, saya nggak pernah berhasil membuat yang layak pakai loh), Tapi justru itulah saat pertama saya merasa terpacu, untuk bisa merubah manik-manik menjadi sebuah bros yang layak pakai…
bunga pink
bros andelan saya 7 tahun yang lalu hihihi….
Di kemudian hari, barulah saya sadari…
bahwa selain memicu saya untuk lebih “BISA” lagi, semangat berbagi ilmu ini juga bisa mendatangkan rupiah yang cukup menggiurkan…

Nggak takut bakalan banyak saingan kie?
maksudnya, setelah banyak yang bisa juga… trus akan banyak yang jualan aksesoris manik-manik sejenis punya kita? yah takut sih ada lah pren… manusiawi lah ya ^__^
Tapi coba kita lihat aja contoh yang sederhana, dengan mulai menghitung jumlah pedagang gorengan yang tersebar di seluruh pelosok surabaya (atau mungkin ada yang minat untuk ngitung populasi seluruh indonesia… hihihi) Dari jumlah sebanyak itu loo… thoh kenyataannya tiap pedagang tetap bisa bertahan hidup dengan pelanggannya masing-masing ^_^

Emang banyak ya kie pendapatan yang bisa kita dapet dari ngajar-ngajar bikin aksesoris gini…
Dikit banyak sebenernya relatif ya pren ^_^ tapi mari berhitung sederhana ala koleksikikie…
Untuk biaya mengajar secara privat selama dua jam penuh, saya menetapkan biaya sekitar Rp 100.000 sd Rp 150.000 (dengan bahan dan peralatan dari saya) kalau dalam satu minggu saya bisa mendapatkan 5 orang peserta kursus maka hanya satu minggu saja penghasilan kotor saya sudah sekitar Rp 500.000- Rp 750.000 Padahal bisa dibilang saya masih taraf pengajar ala kadarnya, bayangkan berapa pendapatan pengajar yang memang menekuni bisnis ini sebagai profesi utama… yang sekali mengajar bisa menerapkan tarif 400 – 500 ribu rupiah per orang… ehem..ehemmmm lumayan lah yaaa
Dan ini semua baru nilai pendapatan yang terhitung secara matematika, padahal kadang banyak keuntungan lain yang saya dapatkan secara cuma-cuma, yaitu saya jadi nambah temen baru, dan sesama pecinta manik-manik pula… jadi gampang kalau mau curhat tentang manik-manik selalu ada yang siap sedia ngedengerin… punya banyak temen senasib siiiihhh.
Dan kalau temen itu ternyata pedagang jenis barang lain… kadang saya juga bisa dapet diskon ^_^ Malah kalau ada yang baik hati banget… pas dateng ke rumah dimas dapet oleh-oleh kerupuk atau satu kotak besar donat J co, hihihihihi ^_^ indahnya hidup iniiiiii

crafter-cibubur

Wah kayanya menggiurkan ya kie, tapi gimana donk kie caranya supaya bisa dapet pelanggan yang mau belajar sama kita-kita gini…

Promosikan diri donk sahabat, caranya bisa macem-macem lho ^_^

1. Pajang/Pakai foto hasil karya kita
model-bros-tile
Pakai aksesoris lucu kemanapun juga ^_^
jangan lupa untuk memajang beberapa di album facebook kita… Tapi biar orang lebih yakin, kalau yang dipajang bener-bener karya kita… kasih deskripsi singkat di tiap gambar tentang bagaimana proses membuatnya, bukan harus teknik bikinnya yang dijelasin detail lo ya.. tapi cerita sederhana tentang suka duka proses pembuatannya, kesulitan secara umum waktu bikin desain tersebut apa, atau mungkin kisah lucu dibalik pembuatannya, dapet ide darimana, yah apapun yang menarik seputar karya kita tersebut dan mengundang orang lain untuk meninggalkan komentar. Dari komentar inilah kita bisa mulai menjalin kedekatan dengan calon customer kita.

2. Jangan segan berbagi ilmu
Walupun awalnya mungkin nggak dihargai secara rupiah, tapi ini akan meningkatkan jam terbang kita dalam mengajarkan atau menerangkan sesuatu kepada orang lain ^_^ karena meskipun sepintas terlihat mudah, nggak semua orang yang bisa membuat aksesoris manik punya keberanian dan ketrampilan untuk mengajarkan ilmunya kepada orang lain. Dan banyak-banyak latihan akan menjadikan kita semakin menguasai dan terlihat ahli dalam pekerjaan ini,

foto-02


3. Bikin tanda pengenal yang jelas

Paling umum sih pake kartu nama, tapi akan oke banget kalau kita bisa bikin brosur sederhana berisi harga dan paket belajar yang disediakan. Karena ada gambar produknya, orang yang awalnya gak pengen belajar bikin pun jadi akan berminat. Yang jelas jangan lupa untuk menuliskan nama kita, lengkap dengan email atau nomer telfon yang dapat dengan mudah dihubungi calon customer kita.
Selain itu, kita bisa juga memanfaatkan halaman promo-promo gratis yang tersebar di berbagai web, via facebook, atau milis-milis yang kita ikuti. Sertakan file berupa foto yang mudah di share melalui sosial media.
workshop-jakarta


4. Jalin koneksi secara luas

khususnya dengan mereka-mereka yang mungkin membutuhkan jasa tenaga pengajar manik-manik seperti kita, diantaranya mungkin : lembaga sosial yang mengajarkan ketrampilan bagi tuna wisma atau yatim piatu, BUMN yang mensosialisasikan ketrampilan yang bisa meningkatkan kualitas hidup para masyarakat kecil menengah ke bawah, event organizer yang sering membuat event-event yang mengajarkan ketrampilan, majalah wanita yang sering membuat acara-acara kewanitaan dengan pembacanya, event organizer pun bisa ikut memasarkan jasa kita ini lho… misalnya sebagai event di pameran, atau acara tambahan saat kampanye produk..


5. Tanggap terhadap situasi sekitar

pernah belanja ke pasar yang jual manik-manik dan berjumpa dengan sesama pembeli, tapi orang tersebut terlihat kebingungan saat melihat bahan tertentu, pas orangnya nanya ke SPGnya dijawab ala kadarnya “ya pokoknya buat bikin kalung-kalung gitu lah bu” Eaaaa…. saya kira dalam kondisi ini bukan maksud mbak nya juga untuk memberikan jawaban pendek yang berkesan jutek, tapi bisa jadi si mbak nya memang juga kurang paham. Nah kalo waktu kita luang gak ada salahnya untuk membantu ibu tersebut, jelaskan yang kita bisa… kalau ibu itu merasa jawaban kita memuaskan, biasanya sih yaaa… pertanyaan selanjutnya adalah “mbaknya bikin apa toh mbak?” “dijual juga ya mbak?” nah kalau sudah terjadi komunikasi kaya gini langsung aja di closing dengan kalimat pamungkas “kalo ibu mau belajar, saya juga bikin kursus singkat di rumah ibu… monggo kapan-kapan mampir”
Dalam kasus-kasus seperti ini hampir 90% orangnya akan menghubungi kita lagi, entar sekedar say hi lewat sms atau mampir ke rumah untuk tanya-tanya. Kenapa demikian? karena bantuan kita tadi menunjukkan kepedulian yang besar pada masalah yang dihadapi ibu td, dan otomatis akan terjalin kedekatan.

Kuncinya: jelilah melihat peluang sahabat.
bahkan kalau pun peluang itu nggak ada,
kita bisa secara kreatif membuka peluang yang ada, (ciehhh bahasanya yak)

Maksudnya gimana kie?
Seorang teman yang juga penggemar manik-manik pernah diminta untuk mengajarkan cara membuat gelang dan kalung sederhana kepada murid-murid TK setelah guru di sekolah tersebut mengetahui, bahwa teman saya ini jago bikin aksesoris dari manik-manik.

Hehehe… ngajarin murid TK? pasti nggak banyak yang menganggap mereka sebagai peluang bisnis yang menggiurkan, padahal kemampuan meronce ini sangat disarankan untuk melatih motorik halus anak-anak lho pren ^_^ Dan ketika murid TK ini jatuh cinta pada ronce meronce manik-manik, maka umumnya orangtua mereka juga tidak segan untuk mengeluarkan biaya membeli peralatan dan bahan untuk mendukung minat anak-anakmereka, bahkan mungkin saja ikut serta menjadi murid kita ^_^ bener-bener ide briliant dalam membaca peluang usaha.

meronce-manik-2


Trus dimana kie, kira-kira kita bisa menemukan calon peserta kursus ini?

hehehee nah yang ini dilanjutkan di artikel berikutnya ya pren ^_^ termasuk bagaimana tips menentukan paket-paket belajar, serta tentunya sharing alternatif cara berbagi ilmu manik-manik yang kreatif dan berpeluang mendatangkan rupiah yang aduhai… hihihihihihi jadi penasaran thoh ^__^ (kie)

Tags: ,

Leave a Reply

Open chat
1
Halo ada yang bisa kami bantu