Home PageBisnis Aksesoris7 Tips Menghadapi si Hobi Nawar

Dec 17

7 Tips Menghadapi si Hobi Nawar

Koleksikikie saat mengikuti Pameran ISEF 2018

Menghadapi Pembeli Hobi Nawar
Salah satu tantangan saat ikut pameran adalah menjumpai calon pembeli secara langsung, ada yang mengapresiasi buatan kita, dan bikin kita bahagia… namun tak jarang ada juga yang harus dihadapi dengan kesabaran ekstra, karena ketrampilan dan kegigihannya dalam menawar barang yang kita jual (udah nawarnya kebangetan, minta bonus, plus tambahan ini itu yang bikin geleng-geleng kepala hueheuehe).

Berikut ini beberapa tips yang bisa kita lakukan saat melakukan penjualan di bazar/pameran, dan bertemu secara langsung dengan calon pelanggan yang hobi nawar ini:

1. Pahami bahwa Menawar bagi sebagian orang adalah Tradisi
“Belanja kalo gak nawar ya gak seru”
“Ya namanya Ibu-ibu kalo beli pasti pake nawar”

Dengan berbekal pemahaman ini, maka kita akan terhindar dari rasa lelah karena marah.
“Enak aja barang buatan gue ditawar ampe 50%, gak tau apa bikinnya ampe gak tidur 2 malem”
“Eh dikira ini bros dipelototin doank langsung jadi, ikut kursusnya aja bayar setengah juta sendiri… enak aja minta bonus 3 sekaligus”

Karena jujur aja, buat pedagang produk handmade yang untuk bisa jualan kita harus melalui proses produksi sendirian dan penuh perjuangan, ditawar gini memang cukup bikin esmosi jiwa hahaha..

Tapi masalahnya, kadang orang nawar itu karena reflek… terbiasa melakukan hal itu saat melakukan transaksi pembelian. Kebiasaan ini akhirnya terbawa dan dipraktekkan ke kita, tanpa sama sekali bermaksud tidak menghargai, atau meremehkan apa yang kita lakukan.

2. Se’sebel’ apapun sama Komentar Pelanggan, pastikan buat selalu “SENYUM”

Senyum, kunci sukses membuka peluang usaha

Salah satu keunggulan dari bertransaksi secara langsung dibandingkan transaksi online adalah kesempatan untuk menampilkan pesan melalui ekspresi wajah tanpa harus disertai kalimat yang panjang. Dan senyum, adalah bahasa universal yang membuka banyak peluang di hidup kita prend..

Jadi kalo misal ada yang lihat barang yang kita jual, trus nawar, dan kita kaget denger angka yang ditawar… pastikan hal pertama yang kita lakukan adalah senyum.

Senyum, akan membantu memberi kita waktu untuk berfikir, langkah selanjutnya yang harus dilakukan. Umumnya pembeli yang nawar ini sendiri terbagi dalam 2 kategori
– Kategori pertama, emang gak niat beli
biasanya habis disenyumin dia akan bilang, “oh gak boleh ya mbak yaa… ya udah deh mbaaa… gak jadi dulu ya”¬†
menghadapi kategori ini, kita hanya perlu bilang “duh iya… maaf ya mbak belum bisa kalau harga segitu”
– Kategori kedua, pelanggan coba-coba doank
pelanggan kategori ini biasanya akan mulai melancarkan kalimat-kalimat rayuan yang lebih jitu menggetarkan jiwa seperti “Ayo donk mbak kasih potongan, toko lain semuanya pada ngasih diskon lho”
nah menghadapi pelanggan ini kita bisa melakukan trik tarik ulur hingga di batas kemampuan kita (baca  : sampe sesabarnya kita ngeladeni hahahaha)

3. Kuasai Informasi Produk dengan Baik

Jelaskan keunggulan produk kita, seperti bahan yang digunakan, proses yang dilakukan, kemasan produk, hingga hal unik lain yang menjadikan produk kita bernilai

Harus dipahami, bahwa penjual yang baik adalah mereka yang mampu mengusai informasi produk yang dijual dengan baik. Ini juga sebenarnya alasan, kenapa kalo produk di pameran dijaga sendiri oleh pemiliknya akan terjual lebih banyak dibandingkan saat dititipkan dengan SPG.

Saya sendiri, biasanya tidak akan mengambil kesempatan ikut Pameran apabila tidak bisa secara aktif menjaga stand selama pameran berlangsung. Kalaupun dijaga secara bergantian, pastikan petugas penjaga stand telah dibekali dengan informasi produk seperi : harga produk yang dijual, detail ukuran, bagaimana cara pemakaian produk, bahan yang digunakan, kesulitan dalam proses pembuatan yang dilakukan, juga kenapa produk tersebut unik dan harus dibeli saat itu juga.

Pengetahuan produk ini akan membantu proses kita meng-edukasi pelanggan tentang produk yang kita jual, karena ketika pelanggan gak tau banyak tentang produk yang dipakai, mereka tidak ada kebanggaan saat menggunakannya, dan tidak ada kebanggaan juga berbanding lurus dengan kerelaan membayar mahal. Mereka yang rela membayar mahal, umumnya karena merasa produk yang dipakai keren dan membuat dia merasa bangga saat memakai.

4. Cari tau apa yang dibutuhkan Pelanggan, dengan mengajukan pertanyaan di sela Proses Tawar Menawar

kemampuan memberikan solusi, akan menciptakan pembeli yang hepii

Pertanyaan ini, akan membantu kita lebih memahami kebutuhan pelanggan tentang produk kita, dari sini kita bertugas mencari informasi bagaimana produk kita bisa hadir sebagai solusi.

“Kalungnya mau dibuat hadiah untuk yang tersayang ya mas?”
“Iya mau saya kasih hadiah buat ibu saya yang mau ulangtahun”
“Oh iya kalung ini cocok mas buat ibu2, apalagi kalo pake kebaya, nanti kita kasih kemasan bagus juga lho mas dari kotak batik, pasti ibunya tambah seneng pas nerima, mas juga gak repot nyari kotaknya”
Buat pelanggan lain kemasan mungkin bukan hal yang penting, tapi saat ingin memberikannya sebagai hadiah, produk yang dikemas akan memudahkan.

“Mau dipake buat ke kantor apa acara santai mbak brosnya?”
“Ini mau saya kasih hadiah buat guru2 anak saya di sekolahan mbak brosnya, makanya kasih diskon donk”
“Oh pasti donk, kita kasih potongan 20% deh asal ambilnnya lebih dari selusin, atau buat mbak spesial beli 5 kita kasih bonus 1 mbak”
Sebenernya kalau dihitung, beli selusin diskon 20% sama aja dengan beli 5 bonus 1 prend, tapi beda lho nyampe ke telinga pelanggan.

5. Bila Pembeli tetep Gigih Menawar, katakan “Maaf” dengan Sopan

Bila pembeli tak kunjung berhenti melakukan aksi tawar menawar di stand kita, jangan ragu dan sungkan untuk menolak dengan terlebih dulu mengucapkan kata Maaf.

“Wah maaf ya mbak, belum bisa kalau harga segitu… saya cuma bisa kasih potongan maksimal 10% saja mbak”
“Wah maaf ya mbak, saya sebenernya ya kepengen barang saya laku… tapi kalau terjualnya di harga segitu saya kepikiran mbak, modalnya belum ketutup kalo ngasih potongan separuh harga mbak”

Kalo belum pergi juga setelah diomongin gitu gimana donk?
Arahkan untuk belanja di lain waktu bisa secara online atau melakukan pemesanan dengan cara lain. Siapkan kartu nama dan alat promosi, atau minta caloin pelanggan tadi untuk follow sosial media kita biar bisa ter-update dengan info promosi yang kita lakukan.

6. Hindari Menjual karena Kasihan, sebaiknya Tukar dengan Promosi

minta pelanggan untuk mempromosikan kegiatan/produk kita di sosial media nya

Kalau angka yang diajukan pelanggan masih masuk dalam anggaran yang kita punya, dan kita bersedia melepaskan barang untuk dijual, hindari untuk menjual barang karena kasihan.
“Ya udah deh buat pelanggan pertama gakpapa… penglaris”
“Sebenernya ya gak boleh mbak, tapi semoga habis ini jadi buat pelanggan setia ya mbak… beli produk kita terus”

Akan jauh lebih baik bila kita minta pelanggan untuk terlibat mempromosikan produk kita
“Ya weis gapapa mbak harga 50.000, tapi kamu ta foto ya mbak buat dipajang di sosial mediaku”
“Kita kasih potongan segitu mbak, tapi mbak harus posting foto di IGnya yaa ngasih tau temennya tentang produk kita”

Pertukaran promosi dengan diskon yang diluar kebiasaan ini akan membuka peluang baru hadirnya pelanggan2 baru ke toko kita. Kalau hanya kartena kasihan sebenernya tidak ada jaminan yang terukur, apakah orang itu akan belanaj lagi atau tidak ke kita, atau apakah saat belanja lagi mau membeli di harga normal atau tetep minta diskon lagi.

7. Pahami bahwa Penjualan di Pameran, Hanya salah satu tolak ukur keberhasilan.

Tugas Utama yang harus tercapai justru memperkenalkan produk kita kepada oarang2 baru yang bukan pelanggan kita. Semakin banyak orang yang kenal, menyimpan materi promosi, dan mau mem-follow akun kita selama pameran, maka semakin besar peluang kita untuk memajukan perdagangan di kemudian hari.

Dengan berbekal pemahaman ini, kita akan menjadi lebih berhati-hati dalam memilih pelanggan dan memberikan harga saat ditawar. Motto hidup saya “Pelanggan adalah raja, tapi sebagai penjual kita boleh milih lho mau punya Raja siapa… hihihihihi” Maka penting untuk memiliki ketrampilan mengenali pelanggan yang kita harapkan, dan fokus pada kelompok itu.

Jangan lupa untuk memanfaatkan pameran sebagai peluang memperluas relasi, berkenalan dengan sesama pedagang, calon klien, jurnalis dan wartawan, maupun artis dan selebgram yang bisa meningkatkan popularitas produk kita.

Tetap Semangat dan Pantang Menyerah
Kabar baiknya, ketrampilan menghadapi pelanggan yang beragam akan semakin terasah bersama jam terbang kita jualan prend..
Kalo diawal memulai usaha masih suka ndredeg semua pas ditanya2, atau galau nentukan harga, suka gak tega kalau ditawar… bersama waktu dan pengalaman kepribadian kita sebagai pedagang tanggung akan terasah. (kie 2018)

bersama Ibu-Ibu Wirausaha Bank Indonesia (WUBI) yang menginspirasi

Leave a Reply

Open chat
1
Halo ada yang bisa kami bantu