Home PageBisnis Aksesoris7 Tips Menulis Iklan di Internet ala Ibu-Ibu

Jul 28

7 Tips Menulis Iklan di Internet ala Ibu-Ibu

“Mbak, Saya itu pengen bisa promosi dagangan saya biar banyak yang beli. Tapi suka ngerasa malu, takut dibilang pamer, apalagi kalo posting di sosial media”

Hari ini saya bertemu dengan Mbak Ninik, salah satu peserta di kelas Google WomenWill Surabaya, yang juga pemilik usaha Abon Sambal Klotok.  Keren lhooo… usaha yang dirintisnya dari rumah itu kini di pasarkan juga di berbagai outlet oleh-oleh Surabaya Patata milik artis Oki Setiana Dewi.

Tapi dalam kelas Pemasaran di Sosial Media kemarin, mbak Ninik cerita kalau kadang-kadang malu mau cerita tentang dagangan, karena takut dibilang riya… hmmm siapa sahabat koleksikikie yang pernah ngerasa kaya mbak niniek juga?

Ber-Dagang dan Ber-Iklan
“Mbak Ninik, kamu gak sendirian mbaak!!”
perasaan malu dan takut saat akan menawarkan dagangan kita ke orang lain adalah hal yang wajar dan sering terjadi, bahkan pada temen2 yang bisnis nya sudah berlangsung lama.

Alasan yang melatarbelakangi munculnya perasaan ini pun banyak
– baru pertama kali jualan
– belum pernah kenal yang mau beli
– takut sama yang dipikirin orang
dan macem-macem lainnya….

Apapun yang menyebabkan perasaan itu muncul kita harus memahami satu hal, bahwa : “memang ada hal-hal yang gak bisa kita kontrol dalam hidup ini, salah staunya ya apa yang ada di dalam pikiran orang lain yaa”…

Trus gimana donk?
Alhamdulillahnya… kita bisa mengendalikan diri kita sendiri.
Jadi daripada mikirin orang lain kok gitu? rasanya akan jauh lebih manfaat kalau kita mulai aja dengan mempersiapkan diri untuk bisa mempromosikan dagangan dengan baik, karena ber-iklan adalah kegiatan yang tidak lepas dalam berdagang.

Mengubah Persepsi Diri
Kabar buruknya, sebesar apapun keinginan kita untuk berubah, akan sulit terjadi kalau apa yang kita pikirkan masih sama aja prend. Dalam buku legendaris karya  Stephen R. CoveyThe 7 Habits of Highly Effective People: Powerful Lessons in Personal Change yang pertama harus dilakukan adalah mengubah persepsi “Beriklan bukan Pamer!”
“Beriklan Bukan Berarti Sombong”

Apa sih sombong itu?
Saya ingat saat saya menanyakan pertanyaan ini, dalam sesi ngobrol sambil minum teh dengan suami … gara-garanya saya nyeletuk gini di awal percakapan kami
“Kasihan lho ya orang yang dari lahir sudah kaya… bayangin kalau dari dulu dia tau nya kemana-mana naik mobil, trus di garasi adanya mobil yang seri paling bagus, trus dia ke sekolahan anaknya naik mobil itu, trus tiba-tiba dibilang orang sombong… Ih jemput sekolah aja naik Alphard, lha ya tapi gimana kalo mobil yang bisa buat jemput anaknya cuma itu”

Kalau kita mau bayar beli gorengan 3.000, trus bayar pake uang 100.000 apa ya sombong? lha padahal duit yang ada di dompet cuma selembar itu. Pusing kan gaesss… hihihihi

Trus suami saya bilang hal yang menurut saya bagus banget dan terus keinget sampai sekarang..
“Sombong itu bukan tentang diri kita sendiri, tapi waktu kita menunjukkan sikap mengecilkan orang lain. Kalau saat kita  melakukan sesuatu, trus ada orang yang ngerasa minder, lalu mungkin tanpa sadar jadi muncul rasa iri di hati nya, ya sebenernya bukan sombong ya”

Tips Menulis Iklan di Internet
Buat para ibu-ibu teman seperjuangan berdagang online, Saya kira beberapa hal berikut ini bisa kita jadikan panduan untuk menulis iklan dan mempromosikan dagangan kita di internet

1. Jujur
Apapun yang kita ceritakan tentang produk kita, berusahalah untuk berpegang pada kebenaran karena hal ini akan membuat kita merasa tenang.

Daripada bilang
“Senengnya bros-bros di gambar ini sudah laku dibeli orang lhooo (padahal aslinya belum ditransfer)”  
akan lebih baik kalau redaksi kalimatnya diganti jadi
“Siap kirim, bros-bros cantik yang baru jadi kemarin… banyak yang suka lho sama produk ini, pilihan warnanya sangat beragam, kontak kita ya buat pemesanan”

2. Pastikan Kita menyukai apa yang kita Jual
Pengalaman bahagia saat memakai produk yang kita jual, akan membuat kita lebih mudah bercerita dengan sepenuh hati.
Kalau kata teman-teman yang sukses di bisnis MLM, jangan jualan deh kalo kita sendiri gak pake produknya…
“Gimana bisa bikin orang lain percaya, kalo kita sendiri gak yakin sama apa yang kita jual”

Pasang foto artis yang lagi make dagangan kita itu keren, tapi dari survey kecil-kecilan yang saya lakukan ternyata teman-teman yang kenal kita, akan jauh lebih tertarik buat membeli saat melihat kita terlihat pede memakai produk tersebut. Makanya jangan heran, kalo pas jaga bazar orang lebih suka nawar barang yang lagi kita pake, padahal yang dijejer buat dijual lebih banyak hihihihi…

3. Jelaskan Produk Kita ditujukan untuk Siapa
Pahami bahwa sesungguhnya istilah “Jelek dan Bagus” itu hal yang sangat relatif ya, misalnya : saat ingin menjual baju model terbaru
daripada hanya bilang
“Baju ini bagus banget lho”
akan sangat baik kalau kita bisa tambahkan keterangan yang lebih detail saat beriklan
“Terusan warna hijau lime ini bagus lho kalau dipakai buat arisan, warnanya segar dan ceria, padukan dengan kepatu keds warna putih agar serasi dengan motif bordiran bunga putih yang ada di lengan baju ini”
Orang yang sedang cari baju buat arisan, dan punya sepatu putih akan lebih berkeinginan untuk membeli karena merasa sesuai dengan keterangan yang kita berikan dalam iklan.

4. Awali dengan Niat Membantu OrangIya sih, kita jualan barang dagangan kita, kalo laku yang bahagia kita. Tapi akan lebih menyenangkan lagi, kalau saat terjual, yang beli bisa ngerasa ikutan senang ya…
Nah kenapa pembeli bisa merasa senang?
Karena kita bisa membantu menyelesaikan masalah mereka…

Daripada mikirin ongkos kirim yang mahal karena sekarang kita tinggalnya di kota kabupaten, trus belum mulai iklan sudah pesimis duluan dengan bilang
“Susah nih jualan kalo dari kota kecil gini, orang gak mau bayar ongkirnya yang mahal”
Kenapa kok kita gak fokus sama bantuan yang bisa kita berikan ke orang tersebut,
“Tas rajut keren ini bisa dikirimkan ke seluruh pelosok Indonesia lho, jadi gak harus repot cari ke Mall, atau dateng jauh-jauh ke kota kami… tinggal kirim pesanan yang diinginkan ke kita, kami pun siap mengirimkan kemana saja”

Tetep sama-sama dikirim dari jauh kan ya
dan bayar ongkirnya juga sama
tapi orang yang jatuh cinta sama karya rajutan kita tadi, akan lebih sepat memutuskan untuk membeli, saat mendapatkan informasi bahwa barang yang diinginkan bisa dibeli secara online. Karena sama seperti “Bagus dan Jelek” tadi, “Murah dan Mahal” juga hal yang sangat relatif bagi setiap orang.

5. Fokus pada Nilai Lebih/Manfaat 

Sudah sewajarnya bahwa setiap produk pasti memiliki kelebihan dan kekurangan ya. Ketika bahan yang dipakai bermutu tinggi harga jadi lebih mahal. Saat produk yang dijual dibuat secara handmade, waktu yang dibutuhkan dalam proses produksi jadi lebih lama.

Sebagai pedagang, kewajiban kita adalah mengenali produk dan menemukan keunggulannya. Sesuatu yang bikin orang seneng sama hal itu.
“Gapapa mbak bikinnya agak lama, tapi kalo kalung ini cuma satu-satunya aja, saya mau nunggu sampe jadi”
“Sebagai ibu saya pengen keluarga saya sehat, gapapa mahal sedikit yang penting kue nya gak pake pengawet mbak… trus gulanya juga aseli kan ya?”

Nah sayang disayang, meskipun kita bikin sendiri, kadang kita gak tau lho apa keunggulan barang yang kita buat, saat kita gak pernah mikirin hal itu… Perlu waktu dan hati yang tenang buat bisa mengenal dengan baik produk yang kita jual. Akan sangat baik juga kalau kita bisa melibatkan orang lain yang mengenal produk kita (karyawan, pelanggan, keluarga) untuk bisa ngasih masukan, hal apa yang menurut mereka keren dari dagangan yang kita jual, agar kalimat yang kita buat saat beriklan bisa lebih tepat sasaran.

6. Hindari Men-Jelekkan Produk Lain
Produk yang kita jual bagus, tapi hindari rencana menjelekkan produk lain. Walaupun saya sangat yakin sih gak ada teman yang merencanakan untuk njelekin produk “toko sebelah” yaaa… cuma kadang tanpa sadar kita bisa kepancing euy, alias gak sengaja keucap gitu lho prend…

misalnya waktu ada pelanggan nanya
“mbak saya pernah beli jilbab gini di mall, tapi bahannya kok licin gitu ya mbak, susah dibentuknya”

daripada kita jawab
“wah pasti itu pake bahan yang murah mbak, kalo bahan yang kita pake ini bagus banget mbak”

akan lebih bijaksana kalo kita bisa bilang
“Kalau saya make jilbab ini, innernya saya kasih yang bahan kaos dulu mbak, jadi nanti jilbabnya bisa lebih rapi saat dipakai. Trus bahan yang kita punya ini juga adem, dan warnanya kan mengkilap mewah gitu mbak… cocok buat dipakai ke kondangan”

7. Tambahkan Cara Pemesanan di Akhir Kalimat
Untuk tujuan terjadinya penjualan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, jangan lupa untuk menambahkan cara pemesanan dalam setiap iklan yang kita buat. Karena satu dua kali saya melihat postingan yang menarik di internet, tapi pas mau pesen bingung sendiri, habis gak ada keterangan sama sekali tentang gimana cara pesan barangnya.

Agar peluang datangnya rezeki ini tidak terlewatkan, tambahkan informasi cara pesan di setiap postingan yang kita lakukan. Bisa dengan menambahkan nomer telfon, menulis akun instagram kita di akhir iklan, atau menambahkan tulisan/watermark online shop kita pada foto yang dipajang bersama iklan.

Menulis panjang-panjang Tata Cara Pemesanan bagus juga sih, tapi untuk postingan yang sifatnya casual di sosial media, hal teknis panjang lebar gini cenderung kurang disukai karena malah memberi kesan ribet dan ngerepoti hihihihi…

Lakukan Terus Menerus dengan Penuh Semangat
Rezeki memang sudah diatur oleh Tuhan Yang Maha Esa, namun kita juga wajib mengusahakannya lho ya… salah satu usaha yang bisa dilakukan ya dengan beriklan.

Beriklan gak harus kaya minum obat ya, sehari 3 kali pagi siang sore malam. Tapi lebih mirip dengan olahraga, harus rutin, terus menerus, biar orang inget sama kita.

Dan biar energi positifnya berasa… harus sambil semangat yaaa prend (kie)

 

Leave a Reply